Mengenal KH. Marzuqi Syakur: Sosok Ulama yang Tawadhu dan Istiqomah

author avatar
By Author 07 Jun 2026, 18:59:54 WIB Sejarah
Mengenal KH. Marzuqi Syakur: Sosok Ulama yang Tawadhu dan Istiqomah

KH. Marzuqi Syakur lahir pada tahun 1945 di Dusun Nglingi, Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Beliau lahir dari pasangan ulama yang mulia, yaitu Syaikh Abd. Syakur bin Jabbar (seorang waliyullah sekaligus pendiri Pondok Pesantren Asy-Syakur) dan Ny. Hj. Ummi Kultsum binti Kyai Masdar. Tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat taat beragama, Kyai Marzuqi sejak kecil telah ditanamkan pendidikan agama yang kuat serta nilai-nilai kejujuran langsung oleh sang ayah. Beliau merupakan anak kedua dari empat bersaudara, bersama dengan Ny. Hj. Maimunah, KH. Misbah, dan Ny. Hj. Munawaroh. Latar belakang inilah yang membentuk beliau tumbuh menjadi sosok religius, pelopor penyiaran Islam, serta figur yang sangat disegani dan dicintai oleh masyarakat.

Demi menimba ilmu, Kyai Marzuqi menempuh rihlah ilmiah di berbagai pondok pesantren salaf terkemuka. Beliau memulai pendidikannya pada tahun 1957 di Pondok Pesantren Abu Dzarrin, Kendal, Bojonegoro selama tiga tahun di bawah bimbingan langsung Syaikh Dimyati, hingga akhirnya sempat ikut mengajar di sana. Selanjutnya, pada tahun 1963 hingga 1967, beliau melanjutkan sanad keilmuan di Pondok Pesantren Jampes, Kediri, lalu berpindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri pada tahun 1967 hingga 1969, sebelum akhirnya memperdalam khazanah keilmuan di Sidoresmo, Surabaya pada tahun 1969 sampai 1970.

Pada tanggal 27 Agustus 1972, dalam usia sekitar 37 tahun, Kyai Marzuqi melangsungkan pernikahan dengan Ny. Hj. Rofi’atin binti KH. Thohir. Dari pernikahan yang penuh berkah ini, beliau dikaruniai empat orang putra-putri yang meneruskan garis perjuangan beliau, yaitu Ny. Ummamah Marzuqi, Ny. Hj. Lathifatul Mun’immah Marzuqi, Ny. Mu’ammirotul Hikmah, dan Ky. M. Ali Baidhowi.

Sekembalinya dari berkelana mencari ilmu, tepatnya mulai tahun 1970, Kyai Marzuqi menetap (mukim) di rumah dan dengan penuh keistiqomahan mengajar santri serta masyarakat. Kitab-kitab yang beliau ajarkan meliputi berbagai cabang disiplin ilmu, seperti Tafsir, Hadits, Tauhid, Nahwu, Balaghah, hingga Tasawuf. Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai pribadi yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah SWT dan mengamalkan ajaran sunnah Rasulullah SAW. Karakter mulia beliau tercermin dari sikapnya yang selalu mengalah, rendah hati (tawadhu), serta penyabar. Segala lapisan masyarakat ia rangkul tanpa memandang status sosial—baik kaya maupun miskin, tua ataupun muda. Dalam menyebarkan syiar Islam, beliau menggunakan pendekatan kekeluargaan yang menyentuh hati, salah satunya dengan secara sukarela membagikan kopiah dan sarung kepada warga yang belum melaksanakan shalat agar mereka tergerak untuk beribadah. Beliau juga selalu menjaga lisan, mengedepankan akhlakul karimah, serta menjauhkan diri dari sikap menggunjing atau menjelek-jelekan orang lain. Jangkauan dakwahnya sangat luas, meliputi daerah Soko, Ngasem, Besaran, Dukohkidul, Banjarejo, Banjarsari, hingga merambah ke wilayah Kabupaten Tuban.

Selain berdakwah secara personal, Kiai Marzuqi juga aktif berkhidmat di Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1973 hingga 1978, sekaligus mengabdikan diri untuk mengembangkan pondok pesantren, madrasah formal, serta Madrasah Diniyah (Madin) yang diwariskan oleh sang ayah. Sepeninggal ayahandanya pada tahun 1986, beliau meneruskan estafet perjuangan dengan aktif mendirikan jaringan Jam'iyah Tahlil dan Manaqib yang tersebar di kurang lebih 50 tempat di berbagai pelosok desa. Kyai Marzuqi Syakur konsisten membimbing umat hingga akhir hayatnya, sampai beliau berpulang ke rahmatullah pada tahun 1999 dalam usia 54 tahun. Untuk mengenang jasa, keteladanan, dan perjuangan besar beliau, pondok pesantren yang beliau asuh kini dinamai Pondok Pesantren Syakur Al Marzuqi, yang roda pendidikan dan dakwahnya terus dilanjutkan dengan istiqomah oleh putra-putri beliau hingga saat ini.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment