Jejak Perjuangan KH. Abd. Syakur (Waliyyun Hamim)

KH. Abd. Syakur, yang dikenal pula dengan sebutan Syaikh Abd. Syakur Waliyyun Hamim, merupakan salah satu ulama kharismatik yang memiliki peran besar dalam bidang pendidikan, dakwah Islam, serta perjuangan mempertahankan agama dan bangsa. Beliau adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Asy-Syakur yang berlokasi di Dusun Nglingi, Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.
Latar Belakang Keluarga dan Masa Kecil
KH. Abd. Syakur lahir pada tahun 1906 dari pasangan Kiai Abdul Jabbar bin Syafii (dikenal sebagai Suro Drono) dan Nyai Khodijah binti Joyorono. Beliau berasal dari keluarga yang memiliki garis perjuangan agama yang kuat. Sejak kecil, KH. Abd. Syakur telah mendapatkan pendidikan agama secara langsung dari ayahnya, yang kemudian membentuk kecintaan beliau terhadap ilmu dan kehidupan keislaman.
Rihlah Ilmu dan Pendidikan Pesantren
Dalam rangka memperdalam ilmu agama, KH. Abd. Syakur menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu di berbagai pesantren. Di antaranya Pondok Pesantren Al-Mustofa Panjunan Kalitidu, Pesantren Banjarsari, Kendal, Langitan, Sidoresmo Surabaya, Jamsaren Pacitan, hingga Pesantren Tebu Ireng Jombang di bawah asuhan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Proses rihlah ini membentuk kedalaman keilmuan, kedewasaan spiritual, serta karakter istiqomah dalam diri beliau.
Kehidupan Keluarga
Pada tahun 1938, KH. Abd. Syakur menikah dengan Nyai Umi Kulsum, putri dari guru beliau, KH. Masdar. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai beberapa putra-putri yang kemudian turut menjadi bagian dari perjalanan dakwah dan pengabdian keluarga besar pesantren.
Perjuangan Bela Negara
Selain sebagai ulama, KH. Abd. Syakur juga tercatat sebagai pejuang bangsa. Pada masa pendudukan Jepang, beliau mengikuti pendidikan semi-militer. Ketika meletus perang kemerdekaan, beliau bergabung dalam pasukan Hisbullah dan turut serta dalam pertempuran mempertahankan Surabaya pada November 1945.
Pada masa berikutnya, beliau juga aktif menghadapi ancaman ideologi komunisme yang mulai masuk ke berbagai lini kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Perjuangan di Bidang Pendidikan dan Dakwah
Setelah wafatnya sang ayah pada tahun 1932, KH. Abd. Syakur melanjutkan amanah mengelola masjid keluarga yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Asy-Syakur. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan kitab-kitab klasik, tetapi juga mengelola pendidikan formal mulai dari PAUD, RA, MI, MTs, hingga MA yang berafiliasi dengan Kementerian Agama.
Selain itu, beliau turut mendorong berdirinya madrasah dan majelis pengajian di berbagai desa di wilayah Bojonegoro dan Tuban. Sejak tahun 1928, aktivitas dakwah beliau telah menjangkau puluhan titik pengajian yang terus berjalan hingga hari ini.
Kepribadian dan Keteladanan
KH. Abd. Syakur dikenal sebagai sosok yang sederhana, disiplin, istiqomah, dan sangat peduli kepada umat. Beliau menjaga sholat berjamaah, memperbanyak ibadah sunnah, serta mengedepankan musyawarah dalam setiap urusan. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau mencontohkan hidup bersahaja dan penuh kasih sayang kepada santri maupun masyarakat.
Wafat dan Warisan Perjuangan
KH. Abd. Syakur wafat pada Selasa Pon, 27 Sya'ban 1406 H / 6 Mei 1986 M, saat menjalankan aktivitas pengajian rutin. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi umat. Para ulama yang hadir memberikan kesaksian atas ketinggian spiritual beliau, dengan menyebutnya sebagai salah satu wali Allah.
Meski telah wafat, perjuangan, ilmu, dan nilai-nilai yang beliau tanamkan terus hidup melalui Pondok Pesantren Asy-Syakur serta jaringan dakwah dan pendidikan yang beliau rintis.
Sumber : KH. M. Musdar, Ketua Yayasan Pendidikan As-Syakur Nglingi Bojonegoro
